A Confession

3 02 2009

Bukan.. ini bukan pengakuan dosa.

I tend to be a highly negatively charge person. Lately I realized this. Saya selalu bilang kalo saya ini positif, dalam beberapa hal mungkin iya. But. Ketika saya berhenti dari aktivitas. Duduk. Ndlosor di kasur. Lempar-lemparan salju sama tembok. Sendirian. Saya matikan social networking. Saya tutup messenger. Apa yang terjadi? I felt I was so negative. At least in the last few months. Bukannya enggak bersyukur atau apa, hal itu terkeluar begitu saja. *D’oh!* Itu juga termasuk kurang bersyukur kaleeee. Padahal saya ini udah dikasih semua yang terbaik loh sama Tuhan saya. Nggak semua orang punya privilege seperti yang saya dapat. Gombal kok saya ini!

Saya bisa dengan bangganya koar-koar kalo saya ini masochist. *Heh bukan yang ke arah sono! (Eh nggak ada yang mikir ke sono ya? Ixixixixi.) Saya bisa dengan hebohnya memamerkan kesedihan saya. Kayak’ orang paling sengsara sedunia. Disaat musim panas, saya ribut kesumukan. Nggrundel. Disaat musim dingin dan angin, saya misuh-misuh kedinginan. Punya duit, pelit. Dipake foya-foya sendiri. Giliran nggak punya simpenan, semua orang diributin. Jalan sama temen suka ngomong, bete. Ditemenin sama yang  pendiem, sepi. Lho??? Wah jaaaaan, arek iki gak jelas karepe.

Hasil posting seorang teman  (sorry link nya nggak saya pasang ya, it will reveal my other half side soalnya heheheh) menyadarkan saya tentang hal ini. Damnation! Berasa ditampar. plak plok plak plok. Well, this has to be stopped. It’s a declaration of WAR against myself! That’s it.. since a declaration to myself is not enough to make me fight this war, I declare it to the whole world.





True Colours

1 02 2009

Eiiittsss.. ini bukan nama grup band lho yaaaa… Ini saya mau bitching.. hyahahahaha.. mau berbuat jahat kok ngaku duluan!

Suatu ketika saya sedang ketak ketik di depan komputer, seorang temen nanya, “Kamu lagi ngapain? Kalo udah selesei pinjem ya komputernya. Biasa.. mo ngecek update-an (pacar).”

*Owh.. Okay. Lagi blogging nih. Bentar ya, baru aja nih mulai ngetik.*

“Blogging tuh apaan ya? Nggak ngerti begituan.”

*Hmmm… kayak nulis diary atau jurnal online deh.*

“Boleh aku baca?”

*Yeah sure, kalo kamu ngerti Indonesian.*

“Ah… OK.. nggak mungkin kalo gitu. Anyway, kalo blogging kamu ngapain?”

*Me? Bitching.*

Hyahahahaha… sumpah waktu ngomong itu padahal cuma iseng doang. Terkeluar begitu aja. Nadanya cuma bercanda. Herannya si temen saya itu percaya. Mungkin habis ini saya nggak punya nama baik lagi. Habis sudah image baik saya. *devilish grin* Too bad. I don’t really care. At. All.

Hari itu sepertinya bukan hari yang baik untuk dihabiskan bersamanya. Not that day. Not the other days before. Abisnya tiap kali ketemu dia, selalu ada kejadian nggak menyenangkan. One of the gal even had a breakdown in a great summer day. Gara-gara Ms. Perfecto yang satu ini. Waktu itu rasanya nggak percaya, temen saya yang manis, selalu baik hati sama siapa aja, ramah, bisa sampe nguntap! Beberapa meter dari temen saya itu, si dia pun menangis ala seorang ratu. Hyahahaha… Nggak percaya saya, berasa masuk ke telenovela. Not only happened once. Terjadi lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi. Entah kenapa dia selalu berusaha (dan berhasil!) menjadikan dirinya public enemy numero uno.

Dan herannya… kenapa saya yang dikuliahin sama dia ya? *geleng-geleng* Mungkin karena saya males banget ngomong, jadinya saya berusaha jadi pendengar yang baik. One or two syllables. Encourage her to tell her story. And it’s getting harder and harder. Karena yang diceritakan sama dia adalah topik2 sensitif. Please deh, kalo ngomongin soal rasisme atau soal sekte2 yang saya sendiri nggak ngerti apaan, ya jangan di tempat rame napa? Apalagi dia ngomongnya nggak bisa pelan. Sini kan jadi jengah. Diliatin orang-orang. Dibelok-belokin, malah mbalik lagi. Kenapa kita nggak ngomongin soal cuaca aja? With her, topik tentang cuaca adalah hal yang saaaaaaaangat menyenangkan. At least aman buat kesehatan mentalku. Gyaaaaaaa. Menit-menit yang menyeramkan.

Selesai dengan topik menyeramkan, dia memulai kuliahnya. Siapa topiknya? Me. Saya. Hyahahahaha. I felt so uneducated. “You know, I agree to the opinion that across the whole world, all the middle class children are the same. They got the same kind of education. From their parents and from their school.” 

Whoa. Maksudnya apa ya, Mbaknya? Mood saya yang udah tinggal seperempat buat bermanis-manis dengannya langsung hilang. I won’t be a good politician. I don’t care. Sepuluh kali sepuluh, capeeee deeeee.

Entah dia nguliahin saya apa lagi. Sikap saya yang selalu cuek ke dia mungkin. Saya udah separo dengernya, padahal dia jalan di sebelah saya. Mungkin orang di belakang saya mengira saya ini betul-betul uneducated. Like I care. Yang ada di kepala saya adalah seandainya saya bisa bilang ke dia, kalo detik itu juga saya bisa beliin dia tiket buat pulang ke negaranya. Business class kalo perlu. Seandainya saya bisa bilang ke dia, kalo dia bilang saya ini middle class child (sesuai dengan spesifikasi dia yang panjang lebar tentang keluarga middle class) then Indonesia adalah negara termakmur di dunia. Bukan lagi developing countries, tapi developed country. Umm… not rite, over developed sepertinya lebih pas. 

Sayangnya itu semua hanya seandainya. Saya kan pelit dan jahat. Buat apa saya beliin dia tiket pesawat pulang. Business class lagi. Buat apa saya kasih tahu ke dia tentang Indonesia. Toh dia sudah bikin fakta ala dia di dalem kepalanya.

Hyuuuuh. Thanks God. I packed her go. I didn’t see her fly. But I do believe she’s out of the country now.





Adalah yang Pertama, Semoga yang Terakhir

25 01 2009

Berita agak basi sebenernya. Tapi, buat saya yang selama ini besar dengan ‘surga ada di telapak kaki ibu’ (walaupun masih sering saya dengar ibu saya komplain kalo saya ini suka nakalin beliau), hal ini benar-benar diluar bayangan. Bagaimana mungkin seorang ibu tega berbuat hal seperti itu. Mana anak-anaknya (jamak!) masih dibawah umur lagi. Naudzubillah.

Dan apakah hukuman 7 tahun itu cukup untuk menghapus trauma anak-anak itu? Dan masyarakat? Well, the community has failed those kids, indeed.

So, setelah gay marriage bikin saya gedek2, sekarang giliran kasus2 incest yang luar biasa anehnya bermunculan. Diawali di Austria dan sekarang di Irlandia. Ibu ini adalah perempuan pertama yang dihukum untuk kasus semacam ini di Irlandia. Hopefully, this one will be the last.





Stop the Ignorance

11 01 2009

I saw that some people whose blogs are in my reading list already wrote the humanity crisis happened in Palestine. I don’t think I need to add the long list. I put some links to the videos if you have the time to stop for a while and ask the question ‘why?’ 

Ah, one more thing, let’s try to educate ourselves. Whenever we read/watch/see books/movies/news/etc; let’s make our brains work and not just eat the information right from the container.

Peace, Propaganda and the Promised Land: Media & the Israel-Palestine Conflict

Occupation 101





let’s talk… ssssssttttt

11 01 2009

–people, please, watch my tone!–

People do think as they do talk. I do think as I do talk. Whatever you do, even if your intention is as pure as driven snow (as if!), there still be chance that I will thought it is harmful. As long as I think (also when I’m still talking) this will be a devil’s circle. 

I try to be a positive person. (Hey, watch my words, I used ‘try to be’ instead of ‘am’). Nonetheless, some of my deeds proven that I still cannot get rid of my negatives charges. One that I learnt in the past few months is that I need to stop talking about other people if I want to stop the mass killing (it is NOT literally speaking, puhleezzzz!!!)

Talking *with* other people cannot be avoided, especially if you’re talkative or working alone all morning and afternoon. To make my mind sane, meeting and talking with people at lunch is one of my priority. At least I can hear their stories. Once it start to talk *about* other people, then it’s time that my lunchtime is over, whatever amount of food still stay inside my lunchbox. I avoid this topic by simply talking about myself (which will make people think I’m a self-centered person) or asking them to talk about themselves (which will make them think that I’m a passive person and don’t like to open myself). Can you catch what I’m trying to say here?

The only think that I practically do–when I don’t get the temptation to join the talk *about* other people and join forces to slowly kill the unlucky ‘friend’ by backstab him/her then watch and let him/her bleeding and loose all his/her dripping blood without giving him/her chance to defend himself/herself or even see the foe’s faces–is shut my mouth, finish my tea/coffee/lunch/whatever i do as fast as possible and run for my life. *phiyuuuhh… release a deep breath*

It’s getting daring when I have a one-on-one shopping trip/lunch/tea/brunch/messenger/etc. Usually it started innocently. Hey what’s up with that guy? Hey what’s the story of this girl? And so the story goes. On and on and on. The thing is, good news only celebrated for a few sentences, meanwhile the ‘hot and wicked’ news stand for the rest of the conversation or make me click a new conversation window. See how evil I am? Beside those people I knew, my victims in this kind of mass slaughter are those so called celebrities in the infotainment show.





Failure

30 12 2008

I was randomly reading some National Geographic (US edition) magazine back issues, when I found two very different meaning of failure.

The first failure I found was in an article titled ‘The God Particle’ from NG March 2008: “Many people at CERN are hoping they’ll get more than just answers: They’d like to uncover some new mysteries. John Ellis confided that he wouldn’t even mind if the LHC failed to find a Higgs. “Many of us theorists would find that failure much more interesting than if we just find another boring old particle that some theorists predicted 45 years ago.””

The second one I found was from April 2008 issue, in an article called The Sahel. One of the caption of its picture said: “Chad. A sudden downpour drenches women near Abeche during the rainy season. Changing climate has already brought the Sahel not only drier weather but also rains that fall too heavily, too early, or too late: In September 2007 floods inundated the normally parched region. As they have for centuries, the Sahel people are finding ways to adapt in a land so uncompromising that failure means death.”

Failure come and go in my life yet I never really think about it as I always think it is part of a normal human circle. It is, indeed.

When I read those two articles I think about how close yet different our  little earth is. In the north people throw millions to build a big pipe across the border of two countries for the sake of knowledge, failure means a new way to learn some more fascinating things. Meanwhile in the south where people is literally have nothing failure means a lost for another soul, adding up a tally in the statistics, or maybe there’s no statistics about it, since no one bother.





Mari Berpetualang

14 12 2008

Saya merasa, saya ini bukan orang yang religius. Memenuhi kewajiban saya yang lima saja sering saya pepet-pepetkan. Ibarat main sepakbola, saya tunggu sampai injury time, supaya penonton terhenyak. Padahal bukannya lebih seru kalau golnya sudah diawal? 

Anyway, beberapa waktu ini saya tinggal di daerah yang menganut nilai-nilai yang berbeda dengan tempat saya dibesarkan. Di kampung saya dulu, orang main judi sembunyi-sembunyi. Orang nonton bokep, amit-amit jangan orang lain denger. Orang minum minuman keras? Wah bisa jadi skandal jepit kalau ketahuan. Munafik ya sepertinya?

Lain kalau didaerah tempat saya tinggal sekarang. Bookmakers (ini bukan tukang bikin atau njilid buku lho yaaaa-red) bertebaran di setiap sudut. Adult stores sangat mudah diakses. Dan minuman beralkohol gampang ditemui. Semuanya serba terbuka dan ada peraturannya. Nampaknya fair ya?

Sering saya melamun… kenapa? Kenapa dengan keterbukaan ini semuanya jadi lebih teratur? Kenapa di kampung saya yang sebenarnya nilai-nilai tersebut sudah diatur tapi tetap dilanggar dan malah menyebabkan munculnya manusia-manusia yang (terpaksa?) munafik?

Kenapa kita tidak menggunakan akal sehat saja? Pakai saja nilai-nilai universal. Pasti semua pihak senang.

Well, saya lupa. Pedoman hidup saya ternyata sudah memberikan cheat, tidak hanya membedakan baik dan buruk, benar dan salah, namun juga amar ma’ruf nahi munkar. Mendekati hal-hal yang baik dan menjauhi hal-hal yang buruk. Bagi saya, menjatuhkan pilihan bahwa yang baik adalah baik dan yang buruk adalah buruk saja masih merupakan tantangan besar. Karena dunia ini penuh warna. Bukan hanya hitam dan putih. Saya tahu saya sudah dibekali sensor olehNya, sayangnya sering saya abaikan sensor saya itu. (Wah, jangan sampai sensor saya mutung dan tidak mau membunyikan alarm lagi di lain waktu.) Nah, kalau mendekati saja sudah enggak, berarti tugas saya lebih gampang dong ya, lha saya jadi enggak perlu memilih jalan lagi.

Jadi ingat, beberapa tahun yang lalu saya baru tahu bahwa minuman beralkohol secara ilmiah terbukti memiliki kandungan antioksidan dan kawan-kawannya yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Bahkan para ilmuwan pun menganjurkan minum-minuman ini secara moderate untuk menjaga kesehatan; walaupun semuanya juga tidak menyarankan untuk mengkonsumsinya (susah ya, bikin bingung aja). Ahaaaa… Gotcha. Tuhan saya sudah berfirman lebih dari 1400 tahun yang lalu, bahwa si minuman ini lebih besar mudharatnya dari pada manfaatnya. Dia menjawab pertanyaan dengan jawaban yang lebih dalam. 

Kalau diibaratkan main game, saya masih dalam level pemula. Tapi bukan berarti saya enggak boleh berpartisipasi dalam game petualangan ini kan? Dalam game ini saya bertemu dengan senior-senior yang sudah memegang peta dan lampu tapi enggan mengajak saya, mungkin karena saya masih pupuk bawang, tidak akan mampu membantunya menuju next level. Untungnya, tidak sedikit pemain lain yang dengan senang hati berbagi tips: hati-hati di sana jalannya berlumpur, di situ lampunya belum dipasang, di sebelah sono jembatannya belum jadi; padahal mereka sendiri belum memegang peta yang utuh.

Seru sekali ya petualangan hidup saya ini? Ngomong-ngomong adakah yang sudah pegang peta?








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.